Siswa Tidak Bersalah Karena Salah





Membaca berita di merdeka.com tentang 5 siswa yang nekad setelah mengetahui bahwa dirinya tidak lulus UNAS. Ada yang mengamuk memecahkan kaca sekolah, merusak ruang kepala sekolah, bahkan ada yang bunuh diri. Ada cerita yang unik, salah satu siswa SMP melempar atap sekolah SMA setelah tahu kakak kandungnya yang sekolah di SMA tersebut tidak lulus.

Saya juga seorang guru. Melihat peristiwa itu semua, ada pertanyaan yang muncul dalam diri saya dan ingin mengajak semuanya untuk bertanya demikian, “Apa itu belajar?” Saya tidak hendak bicara teori dari beberapa ahli pendidikan yang sudah diakui teorinya untuk memberi definisi terhadap belajar. Tetapi pertanyaan ini akan lebih tepat bila ditanyakan oleh para orang tua dan guru pada diri sendiri.
Setiap manusia berakal tentu berbuat jika ada niat. Dia selalu berbuat sesuai ilmunya, menurut pengetahuannya, bukan meniru-niru orang lain.

Ketika orang tua menitipkan anaknya ke sekolah, apakah yang ada di benaknya? Agar dapat ijasah sehingga dikatakan pintar oleh orang banyak? Agar mendapat pengalaman belajar bersama teman-temannya di sekolah? Agar mendapat ilmu yang
bermanfaat untuk masa depannya? Atau apalah?

Jika jawabannya yang pertama, saya kira mudah saja, tidak terlalu sulit. Tanpa belajar pun generasi kita bisa mendapat ijasah. Banyak sekali akal untuk mendapatkan ijasah, apalagi bagi orang tua yang beruang.

Jika jawabannya adalah yang kedua, saya rasa, tidak mendapat ijasah pun tidak apa-apa, yang penting sudah pernah belajar, sudah mendapat pengalaman.

Jika jawabannya adalah yang ketiga, saya berani berpendapat, sekolah saja tidak cukup, sekalipun diberi seratus ribu ijasah. Sekolah bukanlah lautan ilmu, bahkan danau ilmu pun masih kurang tepat. Saya bandingkan, adakah orang tua, terutama yang kaya, mau memasrahkan pengasuhan anaknya pada orang lain yang kurang mampu ekonominya? Saya kira tidak ada. Bahkan, saya yakin tidak ada orang tua, andai dia benar-benar orang tua, yang mau menyerahkan sepeuhnya pengasuhan anaknya pada orang lain. Orang tua yang penyayang tidak akan pernah puas memberi untuk anaknya.

Apalagi tentang pendidikan. Benarkah orang tua mau memasrahkan seratus persen pendidikan anaknya ke sekolah? Dan mereka cukup bersntai di rumah, karena merasa sudah bekerja mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya? Benarkah itu sudah cukup untuk buah hati anda?
Terutama seorang ibu, saya yakin hatinya akan berkata tidak.

Definsi belajar. Menurut saya masing-masing orang tua punya pengertian sendiri-sendiri. Saya sendiri mendefinisikan pendidikan sebagai usaha berubah menjadi lebih baik, tidak harus ditentukan objek yang dipelajari. Menurut saya, keberhasilan belajar bukan menguasai Matematika, Fisika, Sejarah, dan semacamnya. Tetapi, belajar adalah perubahan yang terus menerus dilakukan untuk menjadi yang lebih baik.  

Ya, terus-menerus. Bukan sampai UNAS, bukan berhenti setelah bergelar sarjana atau profesor. Kehidupan tidak statis.

Ada yang lebih penting dari sekedar memberi pengetahuan ini dan itu, yakni pembangunan budaya belajar dan cinta membaca. Bukan budaya menjawab soal-soal pilihan ganda. Bukan budaya tawar menawar nilai berupa angka. Jika nilai angkanya kecil, ngerjakan tugas lagi, berubahlah nilai tadi menjadi lebih besar.

Justru siswa yang malas dan nakal kadang lebih sukses belajar. Dia memang tidak tahu banyak ilmu-ilmu yang diajarkan di kelas, tetapi dia menekuni sesuatu yang diminati dan terus mempelajarinya. Dalam dirinya tertanam budaya belajar mandiri. Hanya saja, guru dan orang tua sering menghinanya karena yang ia pelajari tidak sama dengan teman-temannya di sekolah.

Jika belajar adalah usaha berubah menjadi lebih baik, jadi tidak perlu menanamkan pemikiran pada generasi bahwa sekolah adalah satu-satunya penentu nasib masa depan, terlebih program UNAS. Tak perlu ada pelajar yang bunuh diri, menagis, atau mengamuk seperti orang gila hanya karena tidak bisa memenuhi permintaan pembuat soal UNAS.

__________________________________________________________________ __________________________________________________________________
Siswa Tidak Bersalah Karena Salah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Mistersunlearnto Writewellforever

4 comments:

Tahta Hari said...

bgus artikel nya pak,,thnks
folback done #13 salam kenal pak

Su di said...

Salam kenal juga
semoga sama2semakin sukses

Erwan Setiawan said...

Nice share gan.
emang susah kalau di dalam dunia pendidikan Orang tua ama sekolah tidak atau sedikit berkomunikasi.
Pendidikan akan berhasil kalau semua elemen saling mendukung.

Su di said...

Sepakat.
Makasih kunjungannya

Post a Comment