Saling Percaya Yang Merugikan





Jika anda sering nonton sinetron, pasti sering mendengar kata "Saling Percaya". Biasanya ini merupakan keharusan bagi sepasang kekasih.

Kali ini saya ingin menyampaikan yang saya lihat, kalau saya tidak salah lihat. Ini tentang saling percaya yang ternyata merugikan.

Hidup ini memang kadang sulit dimengerti. Ada orang yang begitu mudah menjalaninya. Ada juga yang sangat susah. Saking susahnya, dia mengibaratkan dirinya seperti orang yang memikul beban berat dan berjalan di tepi jurang yang licin. Di tempat tersebut juga banyak binatang buas. Mau cepat, takut jatuh. Mau pelan, khawatir keburu ada binatang buas. Lalu, gimana solusinya?


Heheee... Anda ingin berkata pasrah saja? Kalau saya, ingin bertanya saja padanya, kenapa lewat di situ? Kenapa mau memikul beban itu?

Jalan mungkin bisa diplih, tapi beban sering datang dengan sendirinya. Entah karena kekeliruan kita atau memang sebuah ujian.

Anda ingat cinta pertama anda? Atau cinta monyet semasa SMP dulu? Atau cinta sejati ketika hendak menikah? Indah kan?

Meskipun saya belum menikah, saya yakin memang indah. Tetapi, berapa banyak pengantin atau pasangan baru yang menyadari ketika itu bahwa suatu saat akan hadir amanah besar dari Tuhan yang telah memberinya kebahagiaan, yang menciptakan keindahan, yang memiliki cinta? Amanah tersebut adalah anak.

Bagaimana dengan anda, ketika menjadi pengantin baru?

Bekera itu harus, untuk memenuhi biaya hidup. Mendidik anak, itu juga wajib. Itu amanah Tuhan. Bagaimana jika jam kerjanya 8 jam, 12 jam, atau bahkan lebih? Sempatkah mendidik anak?

Karena itulah, orang tua menitipkan anaknya di sekolah. Sekolah didirikan memang untuk itu. Namun pada kenyataannya, tujuan orang tua menyekolahkan anak berbeda-beda. Ada yang berharap anaknya menjadi manusia yang berguna kelak. Ada yang berharap agar anaknya menjadi anak yang legal alias berijasah dan mudah mencari kerja. Ada yang sekedar ikut-ikutan, malu pada tetangga kalau tidak ikut-ikutan. Ada yang terpaksa karena anaknya suka sama lawan jenis di sekolah.

Beberapa orang tua memercayakan pendidikan anaknya sepenuhnya pada sekolah. Pokoknya, orang tua tidak mau tahu tentang perkembangan anak. Mereka sibuk mencari nafkah.

Orang-orang di sekolah, yakni para guru, ada yang sepenuhnya mengabdikan hidup mendidik anak-anak. Ada juga yang hanya melaksanakan kewajiban beban jam mengajar. Ada yang hanya mengajarkan satu bidang ilmu. Ada yang sampai berperan sebagai orang tua, hingga seperti keluarga dengan orang tua siswa.

Ada guru yang berkata begini, "Guru kan hanya beberapa jam bersama siswa, orang tualah yang lebih lama bersama mereka." Orang tua juga ada yang mengatakan begini, "Biaya sekolah sudah mahal, pasti pendidikannya berkualitas. Kami percayakan sepenuhnya pada sekolah." Ada lagi, masyarakat. Masyarakat menilai sekolah sebagai lautan ilmu, sehingga seluruh penghuninya adalah orang baik. Berhayallah mereka yang baik-baik. Nah, ketika melihat kejelekan sedikit saja, wah, tampak besar bagi mereka. karena mereka membandingkan dengan harapannya yang begitu besar. Padahal yang tidak di sekolah, jauh lebih banyak berbuat kesalahan.

Jadi ceritanya, guru percaya pada orang tua siswa di rumah, sehingga tidak perlu terlalu berusaha keras mendidik mereka. Orang tua juga begitu. Menurut mereka, anak sudah dididik di sekolah oleh guru yang profesional, sehingga tidak perlu terlalu memikirkan anak. Kerja aja yang semangat, cari uang yang banyak.

Apakah anda bisa menilai moral bangsa kita sekarang?
__________________________________________________________________ __________________________________________________________________
Saling Percaya Yang Merugikan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Mistersunlearnto Writewellforever

No comments:

Post a Comment