Tinggalkan Indonesia, Ceraikan istri Juga? Buang Anak Juga?





Beberapa bulan lalu saya ditawari buku bagus oleh rekan kerja, yakni buku berjudul "Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat". Hehe... Terus, bagaimana nasib para guru? Ada-ada saja. Banyak juga saya lihat kekaguman-kekaguman mahasiswa terhadap orang-orang sukses yang DO dari sekolah atau kampus. Bahkan ada yang kabur dari rumah.

Aneh-aneh saja.

Ada seorang blogger yang mengkritik kekaguman mereka. Kata beliau dalam tulisannya (di postingan sebelumnya), "Benarkah mereka sukses karena DO?" begitu intinya.

Seorang pemuda pendiri penyedia blog Tumblr yang dibeli Yahoo senilai US$1,1 miliar, David Karp juga berhenti dari sekolahnya, bahkan atas izin orang tuanya. Tetapi dia tidak sukses begitu saja setelah DO. Dia berhenti sekolah karena butuh waktu untuk belajar.

"Belajar"

Satu kata itulah yang perlu kita cermati. Bukan karena sulit ngerjakan banyak tugas di kampus, terus mau DO agar segera sukses. Ini perlu dipertanyakan, ingin belajar lebih giat atau malas?

Tidak perlu panjang lebar. Ada lagi yang perlu kita pelajari.

"Apakah jika tangan atau anggota badan lainnya terkena penyakit, lalu mau kita amputasi? Benarkah keinginan semacam itu langsung muncul?"

Saya yakin jawabannya, "Tidak".

Pertanyaan lagi, ketika sudah hidup lebih besar, dari individu menjadi keluarga. Berarti diri sudah bukan satu, sudah bernama keluarga. Jika istri atau suami punya sifat buruk, mau langsung dibuang? Sebagian suami akan menjawab "iya", calon penggantinya banyak. hehehe...

Bagaimana jika anak atau orang tua yang mempunyai sifat buruk?

Seorang ibu yang sejati akan sulit untuk tidak menangis.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan negeri ini?

Apakah karena pejabat atau manusia-manusianya buruk, lalu kita tinggalkan saja negeri ini?

Masih ingat kisah seorang pembunuh yang membunuh 99 orang, kemudian dia membunuh seorang abid juga yang mengatakan bahwa dosanya tidak akan diampuni? Ia kemudian bertemu seorang alim. Orang alim inilah yang mengatakan bahwa dosanya akan diampuni, dan beliau menyarankannya untuk hijrah/pindah karena penghuni wilayah itu berperilaku buruk.

Akankah kita yang di Indonesia juga begitu? Karena sulit menjadi orang baik, lalu ingin meninggalkan negeri ini? Negeri ini kaya. Tapi kita miskin. hehehe... Salah siapa? Mau saling menyalahkan?

Kemudian, bagaimana dengan sekolah? Mau ditinggalkan juga?

Jawab sendiri.

Tapi saran saya, lebih baik mari semangat belajar. Belajar dan belajar. Sesuatu yang dilihat buruk, jika itu dalam tanggung jawab orang lain, berarti itu petunjuk bahwa kita sudah ditambah ilmunya. Bersyukur.

Belajar dan bersyukur.

Ingat film 3 ideot? Si Raju? "I just say 'Thank you'" katanya, karena Tuhan telah memberinya hidup.
__________________________________________________________________ __________________________________________________________________
Tinggalkan Indonesia, Ceraikan istri Juga? Buang Anak Juga? Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Mistersunlearnto Writewellforever

No comments:

Post a Comment