Konflik Israel-Palestina Berkepanjangan: Dimanakah Sang Pahlawan Sejati






konflik israel-Palestina, Relawan palestina, Korban Di Gaza
Cukup menarik membaca tulisan Kholda Naajiyah, S.Si, (Seorang peminat masalah sosial, khususnya wanita dan anak-anak) dengan judul Nasib Anak-anak dalam Konflik Bersenjata di situs (http://hizbut-tahrir.or.id/2008/07/27/nasib-anak-anak-dalam-konflik-bersenjata/). Kholda mengulas nasib anak-anak tak berdosa yang menjadi korban keganasan perang.

Berikut sekilas kutipan yang cukup menarik perhatian saya:

“Dari rentetan kekerasan, pembantaian dan pengalaman buruk lainnya yang dialami anak akhirnya dapat menaburkan benih perilaku anarkis, curiga, kasar, tertutup (introvert), penuh dendam, atau agresif dan selalu ingin mencari musuh. Bahkan, dampak yang lebih buruk lagi, mereka memiliki perasaan ‘wajar’ meniru berbagai kekerasan dan sifat anarkis yang dilakukan militer. Dampak psikologis seperti itu jelas berbahaya bagi suatu bangsa, dibanding sekadar kerusakan fisik. Kerusakan infrstruktur bisa dibangun kembali 1-2 tahun kemudian, namun ‘kerusakan’ mental anak tidak bisa dipulihkan, bahkan sepanjang hayatnya. Padahal, di tangan merekalah masa depan dan identitas suatu bangsa ditentukan. Bagaimana jika pelajaran kekerasan yang terpaksa ia terima di waktu kecil menjadi bekalnya untuk memimpin bangsa tersebut kelak?”

Benih peri laku anarkis tumbuh di jiwa-jiwa belia tersebut dan siap melahirkan kekerasan yang lebih kejam nanti. Benar, ini merupakan kerusakan yang buruk dari pada sekedar kerusakan fisik. Saya jadi teringat Carok (perkelahian) yang hampir menjadi budaya di Madura, tanah nenek moyang saya sendiri. Saudara yang berkunjung ke sana pernah bercerita pengalamannya selama seminggu keberadaannya di sana. Orang mati dipenggal sudah biasa terjadi, katanya (Tidak semua daerah, kebanyakan daerah pelosok) dan tidak ada proses hukum.

Menurut cerita para tetua, konflik mayoritas disebabkan oleh wanita. Wanita ibarat ratu. Namun yang menjadi perhatian saya adalah sebab membudayanya carok, bukan penyebab carok tersebut. Kata mereka para tetua, ikatan kekeluargaan di Madura sangat kuat, hingga ada sepupu, dua pupu, tiga pupu, dst. Mereka mengenal sekali leluhurnya dan siapa yang membunuh leluhurnya. Sebagai keturunan, mereka seolah berkewajiban membalaskan dendam. Menurut kabar, sekarang carok sudah hampir tidak ada lagi.

Kholda mengangkat konflik Israel-palestina dalam artikelnya. Konflik yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini memang tidak ada habis-habisnya diberitakan. Bahkan keberadaannya sudah melahirkan banyak pahlawan dari berbagai penjuru dunia. Bahkan dari Amerika, Negara super power yang sering disebut sebagai pendukung Israel, yakni Rachel Aliene Corrie. Ia adalah seorang activist perdamaian AS yang mati dibuldoser Israel.

“Rachel Aliene Corrie (April 10, 1979 – March 16, 2003) from Olympia, Washington, was an American peace activist and diarist. She was a member of the pro-Palestinian group called the International Solidarity Movement (ISM). She was killed by an Israel Defense Forces (IDF) armored bulldozer in a combat zone in Rafah, in the southern part of the Gaza Strip, under contested circumstances during the height of the second Palestinian intifada.” (en.wikipedia.org/wiki/Rachel_Corrie).

Dari Negara-negara lain juga banyak yang rela mati di daerah konflik tersebut, termasuk Indonesia yang dikenal sebagai Negara dengan jumlah muslim terbesar ini.

“Presiden ACT Ahyudin dalam siaran pers di Jakarta, Jumat mengatakan tim terdiri dari tenaga medis dan logistik yang akan mengirim bantuan ke Gaza City serta anggota tim diminta membuat surat wasiat untuk keluarganya.” (republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/07/11/n8k3h4-act-berangkatkan-relawan-ke-palestina).

Di Bengkulu.

"Pendaftarannya telah kami buka sejak Sabtu lalu. Jadi sekalian relawan juga sebagai tim jihad untuk masyarakat Palestina. Ini sebagai bentuk kepedulian kami sebagai sesama muslim," ujar Pimpinan Ponpes Al Madinah, Sasri Poni, di Bengkulu, Minggu 13 Juli 2014.
(us.nasional.news.viva.co.id/news/read/521238-pondok-pesantren-ini-buka-pendaftaran-relawan-jihad-ke-palestina).

Luar biasa solidaritas mereka, nyawa pun dikorbankan. Mereka mengecam tindakan tidak berperikemanusiaan terhadap warga sipil Palestina. Mereka adalah pahlawan.

Namun, semoga bantuan untuk palestina tidak ada yang merupakan bantuan untuk membalaskan dendam. Jika ini yang terjadi, bisa jadi akan lahir perang dunia ketiga karena di semua Negara akan tumbuh benih dendam. Seperti yang banyak saya saksikan, relawan itu berteriak-teriak bahkan meski masih di negeri sendiri mengecam pelaku kekerasan. Secara manusiawi itu wajar. Manusia normal akan marah menyaksikan kebiadaban terhadap orang-orang tak berdosa. Bahkan ada orang tua yang menanamkan jiwa berperang pada anaknya yang masih belia. Mungkin menurutnya jihad berperang itu wajib. Semoga kita semua mendapat petunjuk Sang Pencipta.

Ibnul Qayyim rahimahullah membagi jihad menjadi empat bagian:
1. Jihadun Nafs (Jihad melawan diri sendiri)
2. Jihadusy Syaithan (Jihad melawan syaithan)
3. Jihadul Kuffar (Jihad melawan kaum kuffar)
4. Jihadul Munafiqin (Jihad menghadapi kaum munafiqin)
(islamdiaries.tumblr.com/post/4958668727/jihad-itu-apa-sih)

Khalifah Umar ra. pernah menyatakan ketidaksukaannya pada sikap agresif Khalid Bin Walid dalam perang, sebab Islam harus tersebar dengan damai tanpa dendam. (referensi film Umar Ibn Khattab).

Beberapa waktu lalu saya sempat mendapat teman facebook yang mengaku dari Palestina, entah beneran atau tidak. Saya menanyakan padanya, “Maukah anak-anak di Palestina diungsikan ke Negara lain dan belajar di sana?” Jawaban dia, “Tentu mau”. Mungkin pertanyaan saya ini konyol. Tetapi, menurut saya itu sangat bagus untuk perkembangan anak agar jiwanya tidak tumbuh bersama dendam.

“Masalah kesehatan mental yang diderita oleh Anak-anak Palestina akibat dari beberapa paparan terhadap peperangan dan kekerasan yang berkelanjutan dapat mengganggu kompetensi kognitif dan tingkah laku mereka (perkembangan sumber daya) termasuk: perhatian, konsentrasi dan daya ingat yang kesemuanya adalah dasar bagi pembelajaran dan pencapaian akademis. Kompetensi kognitif dan perilaku mereka menjadi penuh dengan penderitaan mereka dan digunakan untuk berjuang dan bertahan melawan penderitaan mereka daripada pertumbuhan dan kecakapan pengembangan tugas-tugas.” (idp-europe.org/eenet-asia/eenet-asia-9-ID/page32.php)

Kembali pada tulisan Kholda,

“... peperangan dibatasi dengan tata tertib yang sangat detail. Antara lain dilarang membunuh bukan pada waktu perang; orang yang tidak ikut perang tidak halal dibunuh atau dianiaya (misal wanita, anak-anak kecil, orang-orang jompo, pendeta, hamba sahaya dan pegawai).
Bahkan diharamkan berbuat kekejaman, membunuh binatang, merusak tanaman, mencemari sumur dan menghancurkan tempat tinggal serta menghabisi orang yang luka, mengejar orang yang lari atau menghabisi orang yang telah menyerah. Dengan cara demikian, korban yang berjatuhan baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak dapat diminimalisir. Bahkan kerugian material akibat kerusakan fisik dapat ditekan. Bagi negara yang melanggar, harus dikenai sanksi oleh mahkamah internasional. Jika perlu, kucilkan dari pergaulan masyarakat dunia.”

Mungkin seperti pertandingan Piala dunia antar kesebelasan. Jika mereka bertanding di sembarang tempat, bisa jadi bukan gawang lawan yang dijebol, tapi jendela rumah tetangga. Aturan perang diatas hampir sama. Seandainya aturan tersebut dipatuhi, tentu tidak akan ada korban warga sipil, terlebih anak-anak.

Tetapi, seakan mereka buta aturan, seperti singa di hutan saja. Jika sudah maunya untuk memangsa, siapapun akan diterkam. Mengingat begitu lama konflik yang terjadi, seolah ini bukanlah manusia yang berulah, tapi NAFSU, entah nafsu dendam atau nafsu keserakahan. Jika memang nafsu yang berulah, tentu untuk menghentikannya haruslah dengan senjata yang mampuu membunuh nafsu, bukan senjata yang hanya bisa membunuh manusia. Sudah berapa generasi yang merasakan penderitaan konflik tersebut? Sudah tak terhitung.

Banyak orang menuduh Islam sebagai agama perang. Namun, akhir-akhir ini saya sering menonton video yang menayangkan konflik di Ukraine. Wanita dan anak-anak juga menjadi korban di sana. Ada video yang menayangkan seorang anak yang berpangku pada tangan ayahnya, “I just miss my dog”, “Aku hanya rindu anjingku,” katanya. Sebenarnya dia tidak hanya merindukan anjingnya, tapi ia rindu kedamaian bersama anjingnya, dia rindu semua kenangan di kedamaian.

Menurut saya, ini bukan soal agama. Konflik Ukraine jelas bukan Islam yang berulah. Tetapi ini soal mental, menurut saya. Apapun agamanya, jika ia tidak terdidik, maka sangat mungkin ia menjadi manusia yang haus kekacauan.


__________________________________________________________________ __________________________________________________________________
Konflik Israel-Palestina Berkepanjangan: Dimanakah Sang Pahlawan Sejati Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Mistersunlearnto Writewellforever

No comments:

Post a Comment